Logo

JDIH Provinsi Sumatera Selatan

Memuat...

Terintegrasi LRT, Jalur Tranportasi Berubah

02 February 2018 00:00
Humas Pemprov Sumsel
246 Kali Dilihat
Terintegrasi LRT, Jalur Tranportasi Berubah

Palembang, Sumselprov.go.id -- Segera beroperasionalnya LRT (light rail transit) akan berdampak pada operasional angkutan umum di Palembang. Salah satu yang membutuhkan penyesuaian yakni rute transportasi dalam kota.

Sekretaris Dinas Perhubungan (Dishub) Palembang, Agus Supriyanto, menjelaskan, saat LRT beroperasional memang akan ada perubahan jalur transportasi. “Sistem transportasi nanti dibuat terintegrasi,” ujarnya, kemarin. Khusus untuk BRT Transmusi, tak hanya berhenti mengangkut penumpang di halte haltenya, tapi juga menyambut penumpang LRT.

Bus Transmusi menjadi transportasi massal yang beroperasi di jalan protokol. Untuk bus kota, saat ini tersisa 50 unit lagi. “Izin trayeknya habis tahun ini semua. Setelah itu, digantikan dengan Transmusi,” bebernya.

Sedang angkutan kota (angkot), jumlahnya sudah berkurang banyak. Kalaupun masih banyak, hanya di jalur protokol tertentu seperti Plaju dan Kertapati. “Angkot juga sudah mulai kita alihkan ke trayek baru. Yang ditawarkan, rute menuju perumahan seperti ke Perumahan Talang Kelapa, Perumdam, Kuburan Cina, dan lainnya. Atau jalan-jalan kecil sampai ke rute pinggiran,” ungkap Agus.

Diakuinya, trayek baru memang belum banyak peminatnya. Tapi dia yakin akan berkembang. Kepala Seksi (Kasi) Angkutan Jalan Dishub Sumsel, Fansuri menambahkan, moda transportasi harus saling terintegrasi satu sama lain . Dengan begitu, akan memberikan kemudahan aksesibilitas bagi masyarakat pengguna jasa.

LRT sebagai salah satu moda utama dapat berfungsi maksimal jika terintegrasi secara baik dengan angkutan lanjutannya (feeder). “Salah satu feeder yang dapat dioptimalkan yaitu angkutan perkotaan yang ada saat ini,” imbuhnya.

Kepala Bidang (Kabid) Perkeretaapian Dishub Sumsel, Afrian Joni, menambahkan, uji coba kereta LRT direncanakan awal Maret nanti. Sebelum Asian Games, kereta itu sudah siap dioperasionalkan.

LRT Palembang menggunakan tarif perintis atau public service obligation. Artinya, operasional kereta ini akan disubsidi pemerintah. Setiap tahun, pemerintah akan mengalokasikan dana subsidi mendukung operasional LRT tersebut. “Untuk tarif sudah fix Rp5.000 per penumpang,” imbuhnya.

Dana subsidi itu untuk menutupi kebutuhan biaya listrik, petugas, pemeliharaan, kebersihan dan lainnya. Besaran pasti biaya operasional per tahun belum bisa dipastikan. Tapi dipastikan tembus miliaran rupiah.

Tanpa subsidi dan hanya mengandalkan pendapatan dari tiket, tentu operasional LRT Palembang tak bisa maksimal. “Tapi kita juga belum tahu berapa lama subsidi ini akan diberikan pemerintah,” cetus Afrian.

Seandainya subsidi disetop, bukan tidak mungkin tarif penumpang LRT akan naik.
Namun, untuk sementara, tarif  Rp5.000 per penumpang itu flat. Artinya, penumpang naik dari stasiun mana saja dan akan ke mana ongkosnya senilai itu.
Namun ada wacana khusus penumpang yang naik dari stasiun Bandara SMB II, tarifnya akan lebih mahal. “Tapi berapa besar tarifnya akan dirapatkan lagi, saat ini belum fix,” ujarnya.

Degan tarif terjangkau, Afrian meyakini kalau LRT ini akan menjadi transportasi massal alternatif pilihan masyarakat. Namun, pihaknya menyadari kalau operasional kereta ini tetap membutuhkan dukungan dari moda transportasi darat lainnya. “Perlu adanya konektivitas transportasi. Dalam waktu dekat, hal itu akan dirapatkan dengan berbagai pihak terkait,” tukasnya.

Saat ini, kereta LRT belum selesai dikerjakan PT Inka di Madiun. “Doakan saja semuanya lancar,” kata Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi. Targetnya, operasional LRT Palembang dilakukan sebelum pelaksanaan Asian Games nanti.

Ditambahkan Vice President (VP) Public Relation PT KAI, Agus Komarudin, untuk kereta LRT direncanakan tiba di Kota Palembang awal Maret nanti. Pengiriman dilakukan PT Inka secara bertahap.

“Dari 8 trainset yang dipesan PT KAI, akan dikirim dulu dua trainset,” bebernya. Agus menjelaskan, satu trainset (rangkaian) terdiri dari tiga gerbong. Dengan begitu, total ada 24 kereta untuk LRT Palembang.

Ia memastikan, sebelum dikirim ke Palembang, kereta akan terlebih dahulu diuji coba PT Inka. “Setelah dinyatakan laik jalan, baru dikirim,” imbuhnya. Agus memastikan, kereta yang dibuat tipenya electrical multiple unit. “Sejenis kereta listrik, bukan komuter seperti yang ada di Jakarta,” tuturnya.

Dia menegaskan, LRT Palembang harus sudah beroperasi Juni mendatang. Selama Asian Games, kereta ini untuk armada angkut para atlet dan ofisial peserta. Setelah event olahraga tingkat Asian itu berakhir, fasilitas ini dioperasionalkan secara komersil untuk umum. (yun/fad/ran/ce1)

MC Diskominfo Prov.Sumsel/CleY