Sekda Sumsel Paparkan Upaya Penanganan Karhutla Didepan Pendemo
Palembang. Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Nusantara Indonesia Sumatera Selatan kembali menggelar aksi unjuk rasa jilid II di Halaman Kantor Gubernur Sumsel yang disambut oleh Sekretaris Daerah Prov. Sumsel, H. Edward Candra (Rabu, 21/10/2026).
Dalam aksi tersebut Koordinator BEM Nusantara Sumsel, Ilham, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk desakan mahasiswa agar pemerintah serius menangani karhutla dan kabut asap yang dinilai masih berdampak terhadap masyarakat.
“Fenomena karhutla dan kabut asap yang berlangsung selama kurang lebih empat bulan telah menimbulkan dampak serius, terutama terhadap kesehatan masyarakat,” kata Ilham.
Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa menyebutkan bahwa kabut asap telah memicu ratusan ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumatera Selatan. Mereka pun menyampaikan tiga tuntutan utama, yakni transparansi data penanganan karhutla, keterbukaan penggunaan anggaran termasuk dana bantuan Presiden sebesar Rp100 miliar, serta pertanggungjawaban pemerintah terhadap masyarakat terdampak.
Menanggapi persoalan tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan H. Edward Candra menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan berbagai upaya penanganan karhutla melalui jalur darat dan udara. Sementara itu, Gubernur Sumsel H. Herman Deru saat ini tengah berada di Kabupaten Muara Enim.
“Untuk penanganan karhutla, kita lakukan melalui jalur darat dan udara. Di udara, ada lima helikopter water bombing yang dikerahkan untuk melakukan pemadaman, khususnya di wilayah OKI dan lokasi yang tidak bisa dijangkau melalui jalur darat,” jelas Edward.
Ia menambahkan, upaya pemadaman juga didukung pengerahan personel di sejumlah wilayah rawan karhutla.
“Ada sekitar 12.000 personel yang dikerahkan untuk penanganan karhutla dan tersebar di lokasi-lokasi rawan,” ujarnya.
Selain pemadaman melalui jalur darat dan udara, Pemprov Sumsel juga memanfaatkan teknologi dry ice sebagai bagian dari upaya penanganan karhutla. Menurut Edward, efeknya dapat bertahan hingga empat jam dengan pelaksanaan penyemaian dua kali sehari, yakni siang dan malam, serta dilakukan berulang setiap hari.
Edward juga menyampaikan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tetap dilakukan apabila terdapat potensi pertumbuhan awan hujan.
Selain itu, Edward juga menyapaikan dalam upaya mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, pemerintah juga membuka posko kesehatan gratis yang menyediakan pelayanan pengobatan bagi warga terdampak ISPA serta pembagian masker.
Terkait penggunaan dana bantuan Presiden sebesar Rp100 miliar, Edward mengatakan dana tersebut dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan operasional penanganan karhutla.
“Dana bantuan Presiden digunakan untuk peralatan pemadam, seperti mobil pemadam kebakaran, pompa dan selang, serta mobilisasi personel. Selain itu, juga untuk mendukung pelayanan posko kesehatan, pengobatan gratis bagi masyarakat yang mengalami ISPA, dan pembagian masker,” ungkapnya.
Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat penanganan karhutla sekaligus melindungi masyarakat dari dampak kabut asap.